Ketika aku kecil, aku menemukan seseorang
yang mungkin bisa menjadi sahabatku. Dia mengerti akan diriku. Perkembanganku,
pertumbuhan tubuhku, dan menyediakan semua hal yang kubutuhkan. Dia menyiapkan
semuanya. Melindungku dari gangguan kecil seperti bakteri atau virus yang ingin
menyerangku. Dia bagaikan sistem imun di tubuhku. Siapa yang menyangka umurnya
tidaklah panjang. Orang itu bahkan belum merasakan arti sebuah kehidupan. Dia
tidak tahu bagaimana diriku menjalani dunia ini dengan sedikit kelicikan.
Dunia tidak seluas isi kepala. Isi kepala bisa diperluas dengan imajinasi. Boleh jadi nyata, boleh jadi sekedar angan-angan saja. Jangan membatasinya dengan omongan orang atau pesimistis belaka. SMILE!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Seseorang di kepalaku
Jangan, jangan pergi. Enggak, aku harus pergi. Jangan, kalau aku kesana aku bakal jadi bahan omongan. Ayolah enggak bakal ada yang ...
-
Kami makan siang bersama. Di kantin sekolah yang lumayan ramai di jam istirahat. Matanya yang bulat menatapku dengan lembut. Berkedip beb...
-
Kepikiran pengen jadi wakil rakyat pas ngeliat berita pemilu. Semuanya berkampanye buat narik simpatisan rakyat. Pake slogan alay “Pili...
-
Duduk di bukit kecil, menghadap cakrawala ditemani angin sepoi di sore hari membuat pikiranku fresh, seperti bayi yang baru lahir. Hampa...